Hujan, pagi, transformasi dan evolusi

berangkat dari umur yang mulai merekah, menebar pesona remaja.

Pagi yang cerah, sama seperti biasa. garis batas tampak jelas dan tak terlangkahkan sejengkal saja.

Perawan suci turun dari bukit, mengejar impian yang tak pasti. tak ada yang pasti dengan mimpi, hari ini ada, besok berbeda pula.

Butuh hujan membasuh pagi yang begitu murni. Menyibak aroma tanah kering dan rumput yang membawa aroma rindu disetiap sentuhan hujan.

Aroma hujan dan pagi berbaur membawa kenangan kedamaian, memberi ingat pada garis yang mestinya tidak terlangkahkan.

Hujan berhenti, dedaunan menggeliat, dan tanah merekah. Mereka siap berjalan menyambut sapaan matahari yang mulai menggoda.

Menggeliat bersama mentari, berlari sebebas angin yang menari, menebur asa yang tak mungkin berhenti.

Asa, hasrat, tersesat dalam ingin, membuka sesuatu yang tak terkendali.

Menyibak, menebar, membebaskan aroma dalam diri. Keluar berlari seperti tanpa mengerti. Sakau dengan rasa yang baru dan lena yang bebas.

Terkadang hujan turun, memberi ingatan akan rasa kuncupnya muda. tetesnya menyiratkan garis. Garis yang harusnya tak terlangkahkan.

Pagi sudah pergi.

Tak ada yang perlu disesali. NYawa tak membutuhkan sesal. BIar hujan terus mengingati. Harus ada transformasi. Panas tak sesuai lagi denga pagi.

Mari beranjak menuju siang yang jalannya masih menabur banyak mimpi.

Untuk kembali, jalan tak bersisa. Hanya sia mengubur nyawa.

Harus ada evolusi,

Sebelum revolusi.



Padang yang hujan, 21 April 2018.

Comments